Raden Mas Soewardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada tanggal  2 Mei 1889. Ki Hajar Dewantara adalah pahlawan yang tergolong lantang membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menggerakkan kesatuan untuk menentang pemerintah kolonial Belanda (Aning, 2006).

Penolakan Ki Hajar Dewantara kepada kolonial Belanda ditunjukkan dengan perlakuan beliau yang menolak penerapan konsepsi regeering, tucht, en orde (paksaan, hukuman, dan ketertiban). Dimana, konsepsi ini menempatkan guru dalam pendidikan sebagai figur sentral dan siswa sebagai obyek. Sebagai solusi, Ki Hajar Dewantara mengenalkan konsepsi orde en vrede (tertib dan damai) sebagai dasar pendidikan dengan bertumpu kepada prinsip bertumbuh menurut kodrat.

Alat pendidikan yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantara adalah pemeliharaan dengan sebesar-besarnya perhatian untuk memperoleh tumbuhnya hidup anak lahir dan batin menurut kodratnya sendiri. Konsep ini juga disebut sebagai metode among dengan tiga semboyan yang terkenal (http://www.penulislepas.com), antara lain :

  1. Ing Ngarso Sung Tuladha

Semboyan ini berasal dari kata ”Ing Ngarso” yang berarti di depan, ”Sung” berarti memberi atau menjadi, dan ”Tuladha” berarti teladan atau contoh. Arti dari Ing Ngarso Sung Tuladha adalah pamong apabila berdiri di depan maka setiap saat harus dapat memberi contoh atau tauladan bagi anak didiknya.

  1. Ing Madya Mangun Karso

Semboyan ini berasal dari kata ”Ing Madya”  yang berarti di tengah, ”Mangun” berarti membentuk atau membangun, ”Karsa berati kehendak atau berniat. Ing Madya Mangu Karsa memiliki makna bahwa pamong seharusnya berada di tengah-tengah, sehingga dapat membangun semangat anak didik untuk berkreativitas sesuai tugas dan kewajibannya.

  1. Tut Wuri Handayani

Semboyan ini berasal dari kata ”Tut” yang berati mengikuti, ”Wuri” berarti belakang, dan ”Handayani” adalah memberi kekuatan daya, memberi pengaruh, rangsangan, membimbing, dan mengarahkan anak didik. Jadi Tut Wuri Handayani adalah pamong mengikuti dari belakang dengan memberikan kebebasan pada anak didik tetapi tidak melepaskannya dari pengawasan.

Pemikiran dalam pemecahannya Ki Hajar Dewantara dalam semboyan tersebut cukup relevan dalam membangun kesadaran bangsa ini akan pentingnya pendidikan saat ini. Beliau wafat pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Wijayabrata, Yogyakarta dan tanggal kelahirannya, 2 Mei,  dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional di Indonesia. Selain itu, sampai saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Perguruan Kebangasaan Taman Siswa ini telah melahirkan gagasan pemikiran tentang pendidikan nasional.

About these ads