ah,,, tidak,,, ada proyekan baru nie (ih… sok tuwir) ada lomba lktmse-jawa timur 1 kelompokl 2 orang,, aku bingung mau ngapain, mau bahas mengenai pendidikan diIndonesia khususnya Jawa Timur! tadi siang udah brainstorming sama si Tyas, dan kita memutuskan untuk mengangkat masalah sistem kebijakan pendidikan di Indonesia,

apa ada yang salah dengan pendidikan di Indonesia? pada awalnya aku akan mengangkat masalah tata letak sekolah yang gak efektif. contohnya aja di malang, ada ratusan SD, tapi SLTP-nya hanya berkisar 20-an, bahkan SMAN hanya 10-12-an, (ini hanya untuk sekolah negeri), nah kalau saat tahun ajaran baru, secara otomatis anak yang benar2 bodoh akan tersingkir dari jalur SLTP, dan dia akan masuk ke swasta, iya kalo’ swasta-nya bagus, kalo’ enggak? (karena pada dasarnya, swasta di Indonesia patut dipertanyakan, kecuali swasta yang bener2 swasta dan bermutu),

namun ternyata tyas punya pendapat lain, dia mau mengangkat tentang masalah mata pelajaran, misalnya saja pelajaran sejarah mengapa kita harus mengingat2 kapan dipenogoro meninggal, etc. Emang arepe opo? (untuk apa?) kenapa kita tidak mengingat bagaimana strategi dipenogoro saat melawan belanda, atau strategi belanda mengadu domba, itulah yang harus diajarkan, bukan mengajarkan mengenai tanggal-tanggal.

kemudian kami berdua sama2 mengomentari masalah tersebut, aku juga setuju dengan tyas, bukankah pendidikan sekarang ingin mengembangkan soft skill? kenapa tidak dengan cara mengubah kurikulum? tapi… yang patut diperhatikan, kurikulum sekolah selalu berubah2, dari kurikulum tahun 1994 hingga kbk , lalu yang terakhir saya baca adalah literensi atau literatur (saya lupa). OK, tidak msalah bila menghadapi masalah pergantian kurikulum 94 dengan KBK, karena memang sudah terlalu lama, dan kita sendiri membutuhkan sesuatu yang NEW , NAMUN beberapa saat KBK berjalan, sudah ada sistem yang lain, mengapa dengan pergantian menter, sistem juga berubah? apakah kita sebagai kelinci percobaan? mengapa tidak mencoba untuk menunggu hasil nya-karena kita tidak bisa menggunakan dasar HASIL dalam jangka waktu pendek, sebaiknya 5 tahunan. tapi ya mau bagaimana lagi? tapi ada juga sisi positifnya, itu berarti para atasan masih mau berpikir tentang bagaimana sebaiknya yang mereka lakukan pada pendidikan saat ini, tapi ya mbok sabar tho… kita liat dulu bagaimana perkembangannya, bagaimana reaksi masyarakat, dll. jangan asal berpindah karena berpikir “O…sistem ini gagal”

Hm…akhirnya aku dan tyas bersepakat untuk mencari bagaimana perkembangan, atau konsep dan keadaan pendidikan di negara lain, khususnya FINLANDIA, karena itu adalah salah satu negara yang tertinggi mengenai kualitas pendidikan,, hm…. bahkan Jepang pun kalah,,,

jadi penasaran….

doakan berhasil ya…