Hari ini saya berbincang-bincang dengan seorang teman. Tentang apa, kau tahu? Tentang pernikahan. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan sebuah kertas berwarna pink muda dan bersampul pink tua. Ya… sebuah undangan pernikahan. Begitu manis bukan? Dari temen satu angkatan, yang menikah dengan temen satu angkatan juga. Apa aku mupeng? Ow..tentu saya mupeng. Apa beberapa temen perempuan saya mupeng? Ya…sama seperti ku mereka mupeng.

Tapi perbincangan dengan temanku ini tidak membahas mengenai kemupengan kami berdua? Hehe.. hanya membahas, bagaimana membentuk perasaan saya ingin menikah ? bukannya kita tidak mau menikah, siapa sih cewek yang tak mau menikah? Tentu semua memiliki impian untuk berkeluarga dan memiliki anak-anak yang lucu *jiahhhh,,,,hihihi…* tapi keinginan untuk menikah satu bulan lagi, besok, atau sesaat setelah lulus,,itu belum terbayangkan. Kami berdua masih terbayang-bayang mengenai seperti apa kami di masa depan? (bukan masa depan menikah). Ketika kami telah lulus, akan jadi seperti apa kami? Wanita karirkah? Yang penting bagi kami *for this time* ingin bekerja, nggolek duwit dewe, melayani diri sendiri (yah…cewek, apalagi si selain shopping, travelling, dll), keluarga, kemudian kalau kami merasa ingin menikah, maka kami akan menikah *dengan catatan, wes duwe calon*. Maksudnya, ketika kamu belum bisa menghidupi dirimu sendiri, bagaimana bisa mau hidup berdua atau mungkin bisa bertiga? Trus, ketika belum punya pekerjaan bagaimana mau menghidupi keluarga? Menghidupi dirimu sendiri toh masih belum bisa. Dan aku mengangguk-angguk setuju ketika temanku mengatakan hal itu.

Terlalu subjektif memang. Tapi…jujur aku seneng kalo aku liat temenku nikah muda. Aku salut sama mereka. Mereka punya keberanian. Kalian tahu kan, bahwa menikah itu gak hanya memenuhi kebutuhan seksual sesaat. Tapi bagaimana seorang istri patuh kepada suaminya. Bagaimana seorang suami dapat menjadi imam bagi istrinya. Bagaimana mereka bisa membentuk komitmen untuk setia satu sama lain, tetap saling menyukai satu sama lain ketika mereka sudah menjadi gendut, keriput, dan penyakitan. Kalau sudah memutuskan untuk menikah, pasti minimal sudah siap dengan hal itu bukan? Aku salut..bener-bener salut,

Kata temenku, aku pengen nikah tapi aku je wedi … (masih takut). *teman cewekku yang lain.

Takut? Katanya takut..belum mantap. Ada temenku yang sudah pacaran bertahun-tahun lamanya, tapi dia bilang dia belum mantap dengan pasangannya. Dia sudah mantap dengan pasangannya ketika  pacaran. Tapi, dia belum mantap dengan pasangannya ketika sudah menikah. Dia masih takut, takut dengan keluarga pasangannya yang memiliki kebiasaan berbeda. Dan bukan hanya berbeda, tapi tidak sesuai dengan kata hatinya. Hingga, dia takut kalau hubungan ini sampai pernikahan, akankah dia bisa bertahan dengan kebiasaan keluarga pasangannya? *aku gak tau*

Itulah cewek, sensitif. Ingin semuanya berjalan seperti keinginannya. Tapi cowok juga gitu kan? Kalau tak bisa bekerja sama pasti akan berakhir..

Gak taulah..aku bingung aku nulis apa.. tulisan ini dari awal kayak gak ada permulaannya dan saat ingin mengakhiri, aku gak tau mau nulis apa, begitu banyak pertanyaan berkecamuk di dalam diriku, hingga aku bingung menuliskannya. Maaf untuk orang-orang yang udah baca tulisan ini.

******Buat temenku yang akan menikah, happy married say… semoga barokah, dan menjadi keluarga sakinah, amin… Dengan menghalalkan hubungan kalian, semoga Allah akan memberikan jalan yang lurus pada kalian berdua

Amin ya rabbal alamin