Kemajuan pendidikan mempunyai peranan yang penting karena dengan pendidikan akan menciptakan generasi muda yang cerdas, kreatif dan cendekia. Namun, lembaga pendidikan saat ini telah tercoreng dengan adanya kekerasan dalam pendidikan di lembaga tersebut. Hal ini sangat disayangkan mengingat bahwa pendidikan adalah ilmu normatif. Oleh karena itu, fungsi institusi atau lembaga pendidikan adalah menumbuh-kembangkan subyek didik, yaitu siswa ketingkat normatif yang lebih baik atau menjauhkan dari sesuatu yang bersifat kekerasan.

Kekerasan (violence) berasal dari gabungan kata Latin “vis” (daya, kekuatan) dan “latus” (membawa). Kekerasan adalah merumuskannya sebagai sifat atau hal yang keras; kekuatan; paksaan (desakan atau tekanan yang keras) (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Robert Audi merumuskan violence sebagai serangan atau penyalahgunaan fisik terhadap seseorang atau binatang; atau serangan, penghancuran, perusakan yang sangat keras, kasar, kejam dan ganas atas milik atau sesuatu yang secara potensial dapat menjadi milik seseorang (I Marsana Windhu, 1992).

Pada kenyataannya kondisi pendidikan Indonesia saat ini masih sangat memprihatinkan karena beberapa pihak masih menggunakan kekerasan dengan dalih demi kedisiplinan. Berdasarkan data yang dilansir dari Unicef (http://www.kaltimpost.web.id/), ternyata ditemukan hampir 83% pendidikan di negeri ini masih melakukan kekerasan, mulai dari mencubit sampai menghukum dengan cara membersihkan toilet. Kekerasan dalam pendidikan ini tidak hanya dilakukan oleh tenaga pengajar saja tetapi juga pada pelajar ataupun antar pelajar yang semestinya hal ini tidak harus terjadi. Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan yang menerapkan disiplin tinggi bisa saja terjadi, tetapi tidak dengan kekerasan. Sebab, dengan sebuah sanksi yang dilakukan secara edukatif akan lebih bermanfaat.