Keihklasan memang sesuatu yang tidak bisa dipelajari lewat teori maupun kuliah. Tapi, sebuah keikhlasan hanya dapat diajari melalui pengalaman kehidupan. Memang, banyak hal yang dapat kita pelajari lewat kehidupan daripada melalui teori yang kita dapat dibangku perkuliahan maupun dunia pendidikan SD-SMA. Hal ini juga terjadi kepadaku…

Aku ingat ada seorang adik tingkat yang datang padaku, dia menangis tersedu-sedu, mengadu padaku, bahwa nilai mata kuliahnya mendapat nilai D, padahal dia merasa semua hal yang diminta dosen tersebut sudah dipenuhi dengan baik. Hal ini diperparah ketika teman-temannya mendaptkan nilai B untuk mata kuliah tersebut. Padahal temannya selalu minta diajari “mata kuliah tersebut” kepada adik tingkatku ini. Ketika mendengar hal itu apa yang bisa kukatakan? Ikhlaslah….berat memang melihat orang lain yang dekat dengan kita, yang minta ajarin sesuatu pada kita ternyata mendapat yang lebih baik. Dan anda tahu apa yang terjadi pada adik tingkat saya? Ketika saya menyarankan dirinya untuk menelepon dosen tersebut (karena setahu saya dosen tersebut memang disiplin tapi sebenarnya beliau baik, hanya memang cara bicaranya sedikit berat) apabila dirinya memang merasa tidak adil. Akhirnya, ketika adik tingkat menelepon dosen tersebut, adik tingkat saya disuruh datang ke rumahnya, dan tebak…apa yang terjadi? Adik tingkat saya mendapat nilai C untuk mata kuliah tersebut… Hal ini terus berlanjut…menjadi seorang akademik, mendapat beasiswa, dan teman-teman yang baik. Kejadian ini baru saya sadari ketika saya menulis tulisan ini. Begitu banyak berkah ketika sebuah keikhlasan tiba, subhanallah…

Hal ini juga terjadi pada diri saya sekarang…dua matakuliah saya dari tiga yang keluar hari ini mendapat nilai yang lebih buruk dibandingkan teman-teman yang biasanya saya ajari, saya beritau rumus, saya nasehati, saya semangati, dan saya conteki…awalnya saya sempat kecewa,,,rasa sesak muncul di dada,,,,tapi alhamdulillah hal ini hanya berlangsung beberapa menit,,,karena ternyata Allah memberi saya keberuntungan lain, KKNP saya dipermudah melalui konversi, sebelum kuliah semester 7 dimulai, saya sudah selesai menyelesaikan laporan (hingga petugas penerimaan laporan KKNP kaget ketika saya mengumpulkan laporan, hehe), nilai-nilai mata kuliah yang saya ulang (2 mata kuliah hingga saat ini) naik 100% (misal dari C menjadi B, C+ menjadi B+) dan ini akan sangat mempengaruhi IPK saya. Kemudian, nilai target saya untuk 1 mata kuliah terpenuhi, benar-benar maha besar Allah. Mungkin ketika ada yang membaca tulisan ini ada yang berpikir “makanya..jangan contekin jawaban sembarangan”…haha,,,saya hanya bisa tertawa, sebab ketika saya ada di pihak kesulitan saat ujian, saya pasti sudah ingin menangis ketika gak bisa jawab 1 pertanyaanpun…hahahaha…

Saya juga ingat, kemarin saat mengikuti seminar “bagaimana menaikkan omzet penjualan hingga 30% dalam setahun melalui tekhnologi”, saya bertemu dengan ibu pengusaha (masih skala kecil yang saya yakin beliau akan sukses). Usaha ibu tersebut (Ibu Ike) adalah membuat bros. Usaha tersebut sudah berjalan selama 2 tahun, namun ibu ike baru serius bulan-bulan terahir ini. Beliau bercerita bahwa dalam menjalankan usahanya, ibu ike mengerahkan ibu-ibu PKK yang ada di sekitar rumahnya, kemarin ketika ada pesanan tempat tisu beberapa ratus buah, dirinya mengerahkan ibu-ibu PKK untuk mengerjakan pesanan itu. Ketika saya bertanya

“ Bu, apa bu ike ga takut kalau mengajarkan apa yang ibu bisa kepada oranglain, maka oranglain akan meniru dan menjadi kompetitor usaha tersebut”

dan beliau menjawab, “ ah, enggak mbak….saya ini kerja karena saya suka…penghasilan saya juga ada menjadi seorang dosen (di sebuah perguruan tinggi swasta di Malang—tidak terlalu terkenal–). Malahan yang saya ajarin sudah ada yang lebih sukses mbak, saya seneng lihat ada orang yang lebih sukses, bangga rasanya. Dan sekarang saya ingin belajar kerajinan yang lain, kalau ada pesanan lagi ntar saya kasih ke ibu PKK dan saya cuma memonitoring saja, trus saya mau konsen ke bidang lain (belajar kerajinan lain)” (ketika ngomong seperti itu, ibu ike menunjukkan buku keterampilan yang baru dia beli, dan ingin dia pelajari pada saya). Jujur, ketika bu ike memberi tahu saya tentang buku itu, saya menjadi sangat sangat sangat salut karena bisa diartikan dia membuka kartu nya tentang kerajinan apa yang akan dia buat selanjutnya, dan apabila bu ike seorang yang tidak ingin berbagi, pasti dia hanya akan menjawab “ada saja lah mbak..usaha yang akan saya jalani…coba-coba dulu”

Dan yang membuat saya  makin terkejut adalah ketika beliau berkata, “ saya ngajarin ibu-ibu PKK ya gak saya tarik bayaran mbak, saya ikhlas buat ngajarin mereka. Tapi, kalau ada orang dari luar RT saya tarik biaya Rp 10.000 untuk belajar buat bros, nanti saya sediakan manik-manik, saya pinjami alat, dan bahan-bahan lain, 25% dari biaya tersebut saya sisihkan buat ngasih anak yatim piatu, kadang saya kumpulkan bersama beberapa persen dari omzet saya yang ingin saya sedekahkan. Nanti saya belikan buku buat anak-anak yatim, atau saya bantu untuk membayar biaya sekolah beberapa bulan”

Ketika mendengar hal itu saya hanya bisa mengelus dada, dan berkata “subhanallah, bu ike baik ya…alhamdulillah ada orang kayak ibu. Saya yakin usahanya bisa sukses bu, semangat ya bu”

Dan kemudian kami berpisah, dan hal itu menjadi suatu pelajaran besar untuk saya bahwa tidak ada hal yang buruk ketika kita berbagi pada orang lain. Sungguh,,,tidak ada…yang ada adalah kenikmatan Allah yang tak akan pernah habis untuk kita. Dan ketika nikmat-nikmat itu diberikan, kita dalam keadaan tidak sadar dan masih dalam keadaan yang berkata “Ya Allah..kenapa ini yang kau berikan???” padahal sudah banyak kenikmatan yang datang dengan sendirinya tanpa kita sadari. Alhamdulillah…

Semoga kita tetap menjadi orang-orang yang disayangi, dicintai oleh Allah SWT…

Terima kasih ya Allah

Terima kasih….

Tetaplah ada di sampingku sampai kapanpun…

Luph u Allah…